euweu-hide

tidak ada ide (euweuh ide; sundanese) merupakan sebuah kondisi yang paling menyebalkan saat kita beraktivitas terlebih kegiatan mendesain.
Recent Tweets @khairidda
Posts I Like

Rombongan kami tiba di Pantai Ciantir Sawarna tepat pada pukul 21.00. Langsung mendatangi warung kopi yang menyediakan saung juga untuk beristirahat. Biasanya saung di Sawarna ini tidak memiliki tarif, hanya memberikan seikhlasnya saja. Kami mulai bongkar muatan sambil mencari posisi yang paling nyaman setelah riding kurang lebih sembilan jam kebelakang.

Satu per satu dari kami bergantian ke kamar mandi untuk bersih diri. Giliran saya pun tiba. Kamar mandi yang tak terlalu bersih dan dinding yang tak tinggi. Hanya dua meter, sehingga membuat bau ‘buang hajat’ di sebelah pun tercium ke kamar mandi sebelahnya. Saya hanya sekedar mengganti celana dan membersihkan kaki.

Selesai bersih diri, saya memesan kopi susu di warung tersebut. Perlu diperhatikan, nama warungnya adalah ‘Cahaya’ dan nampak nongkrong tiga orang ibu-ibu paruh baya, sekitar usia 40-an di saung sebelah warung. Tak ada angin apapun saya ditawari ‘plus-plus’ oleh salah seorang ibu yang nongkrong.

"Kang, sekalian plus-plusnya atuh" ungkap salah seorang ibu.
Saya hanya mengernyitkan dahi sambil berseliweran berbagai macam pikiran di otak saya. Saya hanya tersenyum sembari mengatakan “terimakasih, saya hanya beristirahat di sini”.

Namun sang ibu terus berbicara. Mulai dari siapa yang akan ditawari untuk ‘bermain’ hingga dimana bisa bermain. Saya terkejut ketika sang ibu menawarkan saung untuk ‘bermain’ jika kita tak menyewa penginapan di Sawarna. Saya yang berniat untuk minum kopi di warung pun tak tahan dengan pembicaraan si ibu tersebut. Akhirnya saya meminta pesanan kopi susu saya diantarkan ke saung dimana saya beristirahat.

Bukan kopi susu yang datang, melainkan segelas susu putih yang diantarkan ke saung. Otomatis saya ke warung kembali untuk memesan kembali karena susu putih itu diembat oleh Kang Heri :D. Jackpot pun didapatkan kembali oleh saya. Ketika ke warung saya menemukan seorang ibu (maaf) sedang berganti pakaian dan dengan santainya dia meneruskan walaupun ada saya di warung tersebut. Saya makin mengerti jika warung ini merupakan tempat prostitusi yang cukup terselubung. Agar jelas, saya memesan kopi hitam dan segera kembali ke saung.

Ketika saya bertanya kepada teman-teman yang lain, ternyata hanya saya yang ditawari. Sampai-sampai saya dikatakan muka mesum oleh semua teman-teman yang baru saya kenal tak lebih dari satu minggu kebelakang, hahaha. Tidak ada satupun yang ditawarkan. Sampai-sampai salah seorang teman saya kembali ke warung hanya sekedar untuk mencari kesempatan “apakah saya akan ditawari?” hahaha. Akhirnya semuanya berkesimpulan jika muka saya muka mesum atau muka berduit, hahaha.

Di sini saya mendapat tips bagus untuk membuat fisik tetap tahan dan menghindari masuk angin. Kopi hitam campur tolak angin! Rasanya pun dahsyat! Dada rasanya hangat dan Alhamdulillah hingga pulang ke rumah pun saya sehat wal afiat.

Lepas dari pembicaraan tak jelas, satu per satu dari kami mulai merebahkan diri untuk beristirahat. Saya sendiri masih belum mengantuk, aktivitas sosial media saya lakukan saat itu. Tak lama, sekitar pukul 23.00 datang rombongan Kang Udhy bersama Neng, Kang Tedi, dan Om Gusti. Sempat mengobrol sebentar. Tak kuat menahan kantuk saya pun beristirahat. ~~~

Subuh hari saya bangun. Terlihat rombongan dari Tangerang dan Bekasi sudah beristirahat. Kabarnya mereka datang saat dini hari. Mencari momen sunrise dari bukit Sawarna hingga pagi hari. Tak puas dengan sunrise yang kurang baik karena cuaca mendung, saya bersama Kang Heri bermain ke Tanjung Layar. Berfoto narsis di setiap spot, mencari IGO-IGO, dan tentunya menikmati keindahan alam Tanjung Layar.

Semakin kaget ketika kami kembali dari Tanjung Layar, di warung Cahaya ditemukan dua orang gadis duduk manis dengan dandanannya yang cukup menor. Obrol-obrol ternyata gadis ini adalah gadis cabe-cabean. Usianya mungkin belum 20 tahun. Dan lebih menyakitkannya lagi mereka diperas fisiknya untuk memenuhi nafsu-nafsu para lelaki hidung belang. Cukup prihatin dengan keadaan seperti ini.

Info yang saya tahu tentang prostitusi di daerah Sawarna tidak ada sebelum tahun 2012. Mungkin mereka mencari ‘penghidupan’ setelah Sawarna mulai digemari masyarakat sebagai salah satu daerah wisata yang menarik. Cukup sudah membahas cabe-cabean ini :D

Pukul 09.00 kami re-packing dan bersiap untuk riding ke Ujung Kulon. Semakin terkejut dengan pemilik warung yang meminta harga Rp300.000 untuk dua buah saung yang kita gunakan. Dompet cukup terkuras di sini. Tak sesuai dugaan yang membayar seikhlasnya. Tahu keadaan seperti ini, kita istirahat di Tanjung Layar.

Saya tidak merekomendasikan daerah saung-saung di Pantai Ciantir ini menjadi lokasi istirahat bagi para pelancong. Lebih baik di daerah Tanjung Layar atau sekalian mencari penginapan di Desa Sawarnanya.

harus ditonton yg menit2 terakhirnya. at ngamprah – View on Path.

Find me on Path now! Go to: path.com!

Sabtu, 11 Januari 2014. Hari ini merupakan hari keberangkatan saya bersama rombongan Nusantaride dalam mengikuti Event Nusantaride National Rally Ujung Kulon. Malam yang panjang sebelumnya, kami isi dengan obrolan panjang ditemani dengan kopi hitam dan berbatang-batang oksigen. Berniat untuk briefing merencanakan perjalanan esok hari, hanya satu kesepakatan yang kita dapatkan. Berangkat jam 11 siang, checkpoint pertama di Situ Ciburuy dengan destinasi pertama adalah Pantai Sawarna.

Tepat pukul 09.00 saya mulai packing barang bawaan. Dengan motor Kawasaki KLX150 titipan salah seorang kerabat, saya bulat untuk pergi tanpa ada halangan. Box tabung belakang diisi dengan toolkit, gembok, dan jas hujan badan. Box tabung depan diisi dengan peralatan kebersihan, dompet, serta benda-benda ringan. Intinya dalam perjalanan ini saya membawa dua buah box tabung, satu buah tas yang diikat di motor, matrass TNI, dan sebuah tas pinggang kamera. Sangat menginginkan tank-bag yang disimpan di atas tangki bensin, sayangnya dompet belum mengizinkan.

Sebelum berangkat saya meminta izin pada ibu agar selamat sampai tujuan dan dihindarkan dari hal-hal yang buruk. Doanya sangat saya butuhkan setiap waktu. Berangkat dari rumah tepat pukul 13.00 menuju checkpoint pertama rombongan Bandung, Situ Ciburuy. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer. Tiba di sana, sudah menunggu Mang Dedi, Kang Yudha, dan Kang Hermawan bersama teman baru yang saya kenal, Kang Heri.

Kondisi cuaca saat kami berangkat lumayan cerah. Melihat ke arah barat seolah di sana terang dan tak hujan. Kami berangkat pada pukul 13.30 dengan setelan lengkap. Beberapa sudah memakai raincoat agar terhindar dari basah tiba-tiba karena hujan. Mang Dedi memimpin sebagai RC, posisi saya masih di second place dan diikuti dengan teman-teman yang lain. Hingga Pom Bensin Karang Tengah Cianjur, kami berhenti dan beberapa mengisi bahan bakar.

Karena sudah diisi full dari Ciburuy, saya hanya asyik mengecek GPS MyTracks dan mengambil beberapa foto untuk digunakan di Instaweather. Share ke Grup Nusantaride dan TOURING! magazines tentunya untuk update lokasi. Tak lama kita berjalan kembali. Di depan kami ada Warung Kondang dan Tanjangan Gekbrong untuk dilalui.

Kecepatan stabil di 50 KM/Jam, tidak ada masalah yang terlalu signifikan. Hanya saja rintik hujan saya sadari semakin besar. Hingga di daerah Sukaraja saya memutuskan untuk berhenti dan memakai raincoat. Sayangnya Mang Dedi terlalu di depan dan berharap menunggu atau bahkan kembali. Kami berempat berhenti di sisi sebuah warung. Aktivitas oksigen kembali dilakukan. Tak lama kami break, datanglah Mang Dedi dengan senyumannya yang khas. “Kirain ada apa, eh lagi ngoksigen rupanya!” celetuk dia saat memarkirkan New Mega Pro-nya.

Di daerah Sukabumi kami terhenti karena ada perbaikan jalan di daerah keramaian. Saat itu pun saya diingatkan jika raincoat tas kamera saya tergenang air. Wah bahaya sekali, saya berhenti dan mengeluarkan air. Saya cek isi tas tersebut, Alhamdulillah tidak ada basah atau kemasukan air sedikitpun. Raincoat tak berefek, saya ganti dengan keresek hitam. Saya masukan ke dalam raincoat baju yang saya pakai.

Hujan tak coba mengalah, perjalanan tetap kami lanjutkan hingga kami beristirahat di Terminal Cikembang Sukabumi. Tergoda oleh hidangan sup iga sapi, saya pun jadi berwisata kuliner juga. Ditemani dengan teh manis hangat. Kenikmatan sup iga sapinya tiada tara, mantap sekali. Namun siapa sangka kenikmatan sup ini bisa kita bayar dengan murah. Jackpot!! Nasi + Sup Iga Sapi beserta teh manis saya bayar Rp25.000. Saya pikir ini overpriced, karena lokasi berada di daerah terminal. Mengeluh tak menyelesaikan masalah, saya packing dan siap riding kembali.

Salah sendiri tidak ke kamar mandi saat di warung makan. Saya pun menahan pipis kurang lebih 1,5 jam dari Terminal Cikembang hingga SPBU Pelabuhan Ratu. Ini kesalahan fatal yang bisa membuat konsentrasi buyar dan tidak nyaman saat riding. Hajatan saya selesaikan di SPBU sekaligus mengisi bahan bakar. Hanya isi Rp16.000 full tank.

Saat itu hujan pun belum reda. Pelabuhan Ratu kami lewati, Pantai Citepus, Pantai Cimaja, Pantai Karang Hawu, hingga Pantai Cibangban yang tepat kami lewati tanpa henti. Puncak Habibie di Cisolok pun kami tak sempat untuk bersinggah kopi dan sebatang rokok. Hujan saat itu tak terlalu deras. Jika berhenti tentunya malas sekali untuk re-packing. Stabil di 50KM/Jam baik itu jalan lurus, belok, tanjakan, turunan, tetap stabil. Saya sendiri berada sebagai sweeper dan merasa flow riding kali ini santai tapi cepat. Kondisi malam hari mendukung flow dan tentunya sepi yang menjadi faktor pendukung terlebih setelah melewati perbatasan Jawa Barat - Banten.

Pintu gerbang Sawarna yang khas sudah tercapai. Jembatan gantung mesti kami lewati. Saya sendiri baru pertama kali melewati jembatan gantung ini dengan mengendarai sepeda motor. Semuanya aman. Bayar tiket masuk seharga Rp5.000 per orang. Saya pikir kita akan bermalam di daerah Tanjung Layar, ternyata Mang Dedi mengarahkan ke Pantai Ciantir. Yasudahlah, yang penting kami bisa beristirahat baik itu raga kita maupun tunggangan kita.

Pukul 21.00 tepat kami tiba di Pantai Ciantir Sawarna. Dengan penuh peluh dan pengalaman baru tentunya kami tetap semangat menjalani perjalanan menuju NNRUK kali ini. Hujan tak membuat semangat kami padam. Hujan tak membuat kami lemah. Hujan tak membuat kami kalah.

Selama hidup di dunia, kita akan selalu dikelilingi oleh hal-hal atau benda-benda yang kita klaim sebagai milik kita. Keluarga, rumah, pekerjaan, pancaindera, harta, ilmu pengetahuan, keahlian, dan sebagainya semua kita sebut sebagai milik kita. Akan tetapi, benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita?

Memang, berbagai perangkat keduniaan, semisal surat-surat resmi, bisa menjadi bukti bahwa keluarga, pekerjaan, tanah, dan sebagainya itu adalah milik kita. Akan tetapi, status kepemilikan kita adalah pemilik nisbi. Pemilik mutlak dari segala sesuatu hanyalah Allah Swt. Bahkan, diri kita yang lemah ini pun adalah milik-Nya.

Kenyataan bahwa kita bukanlah pemilik mutlak sering kita lupakan. Sampai-sampai, kita bersikap seolah-olah harta itu adalah milik kita sepenuhnya sehinga kita memperlakukannya sekehendak hati, bukan sekehendak Zat Pemilik mutlak. Kita sering lupa bahwa harta (dan apapun yang ada) hanyalah bentuk titipan dari Allah Swt. Sejatinya, di balik itu, ada tanggung jawab, ada amanah, bahkan ada sebagian darinya milik orang lain yang harus kita salurkan kembali.

Saat pertama kali menyebarkan Islam di Mekkah, salah satu misi Rasulullah Saw. adalah memberantas sikap kebergantungan pada materi yang menjangkiti masyarakat Arab. Mereka begitu terlena dalam pusaran materi sehingga sikap dan pandangan hidupnya senantiasa diwarnai cara pandang materialistis.

Itulah sebabnya, dakwah Rasulullah tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Mereka tidak peduli kepada seruan Nabi, bukan karena apa yang disampaikan beliau tidak masuk akal atau karena Nabi adalah orang yang tidak bisa dipercaya, melainkan Nabi bukan dari golongan kaya (pada waktu itu, klan Hasyim, keluarga Rasulullah, sedang menurun pamornya). Kaum kafir Mekah hanya ingin mendengarkan kata-kata dari mereka yang berharta. Jadi, begitu kuat pesona harta benda sehingga ia mampu menutup cahaya Illahi (hidayah).

Karena itu, ada beberapa hal yang harus dicamkan oleh seorang muslim dalam menyikapi harta benda, diantaranya adalah sebagai berikut:

Harta adalah anugerah dari Allah Swt. yang harus selalu disyukuri.
Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk memikul harta benda. Karena itu, ia harus disyukuri sebab jika tidak mampu memikulnya, pahala yang sangat besar sudah menanti.

Harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Setiap kondisi (entah itu baik atau buruk) yang kita alami harus kita hadapi dengan baik sesuai dengan keinginan Yang Memberi amanah. Di balik harta melimpah, ada tanggung jawab dan amanah yang harus kita tunaikan. Harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah akan menjadi kotor karena bagian halal yang merupakan hak pemiliknya dengan bagian haram yang merupakan hak kaum fakir, miskin, dan orang-orang yang kekurangan lainnya telah bercampur. Allah Swt. berfirman, "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah:103)

Harta adalah ujian.
Ujian bukan hanya kemiskinan. Kekayaan pun merupakan ujian yang sangat berat. Persoalannya buka pada kaya atau miskin, tetapi pada cara menghadapinya. Kedua kondisi itu ada pada manusia. Tujuan di balik itu hanya satu, yaitu Allah ingin mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Bagi yang berharta, tentunya ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan terhadap harta tersebut.

Harta adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai.
Allah Swt. menciptakan beraneka ragam hiasan hidup bagi manusia. Keluarga, anak, dan harta benda termasuk di dalamnya. Dengan adanya hiasan hidup, hidup menjadi indah. Namun, patut disadari bahwa pesona keindahan hidup itu sering menyilaukan sehingga membutakan mata hati dan membuata manusia lupa kepada-Nya dan lupa pada tujuan awal penciptaan hiasan itu. Semua itu hakikatnya adalah titipan dan ujian. "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun:15).

Harta adalah bekal ibadah.
Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Karena itu, segenap perangkat duniawi, baik yang materiil maupun yang nonmateriil, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan manusia untuk beribadah. Kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan hanya menjadi ibadah menakala dinafkahkan di jalan Allah, melainkan juga sudah bernilai ibadah manakala manusia mencari nafkah untuk keluarganya dan selebihnya untuk kemashlahatan umat dengan ikhlas. Jika harta dipergunakan sebaik-baiknya, pahala yang amat besar menanti. Namun, jika tidak, siksaan Allah sangatlah pedih.

Islam sangat menekankan harta benda sebagai kepemilikan yang tidak terpusat pada satu atau segolongan orang. Namun, hal itu tidak lantas dipahami bahwa Islam mengabaikan sama sekali hak individu untuk menikmati harta yang telah diusahakannya dengan susah payah.
Allah Swt. menegaskan dalam Al-Quran, "Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra:29)

Ibadah Kosmopolitan, Prof. Dr. KH. Miftah Faridl.

Karena sulitnya aku membangunkan pasukan touring, keberangkatan ditunda menjadi pukul 02.30. Walaupun masih jemu pemikiran ini, aku hanya bisa berdoa, “Ya Allah selamatkan kami dalam perjalanan pulang”. Start! Hingga Pantai Ujung Genteng, stabil di 10-20 km/j karena jalanan berbatu. Lepas, kupacu pasukan hingga 70 km/j. Masalah terjadi di Imam dan Cupsy. Imam kupindahkan posisi, tepat dibelakangku agar bisa mengejar dan jika tertinggal pun mudah terdeteksi. Kutahan kecepatan di 50-60 km/j agar bisa mengimbangi Jupiter MX milik Cupsy yang bermasalah pada gearset-nya.

Adzan Subuh berkumandang setelah melewati Surade, ban sepeda motor Ihya bocor. Huft, kuminta dia untuk mencari tambal ban sendiri di depan sana. Sisanya kuarahkan untuk mencari mesjid dan shalat Subuh di sana. Anehnya, entah kenapa anak-anak berbelok ke sebuah jalan kecil. Kabarnya ada mesjid di dalam sana. Tiada orang di mesjid, sepi, air kran pun tak keluar. Suasana menjadi riuh saat Imam menabrak pagar sebuah rumah di sisi jalan. Kontan, pagar bambu itu rubuh. Kacau, Imam menulis permintaan maafnya di sehelai kertas sembari menyisipkan beberapa lembar rupiah di dalamnya. Luar binasa sekali touring kali ini.

Terpaksa aku mencari mesjid di dekat Ihya menambal ban sepeda motornya. Kuminta anak-anak agar bersegera. Matahari mulai terlihat, kami melanjutkan perjalanan.

Tiba di penginapan sekitar pukul 20.00. Larut sekali jika kondisinya sedang touring. Emosi tak tertahankan kulepas dengan amarah pada beberapa crew touring yang rewel. Ditambah lagi masalah masak mie instan yang tak terealisasikan. Tidak ada gas, magic com pun jadi. Sayangnya perlu waktu berabad-abad untuk memasak setengah dus indomie dalam magic com.

Rokok tinggal tersisa tiga batang. Ada dua batang dji sam soe cadangan yang ogah kuhisap. Jemu sekali. ketika yang lain mulai beristirahat, aku malah harus mencari bengkel karena head lamp motor MX-nya Cupsy mati total. Dengan rencana waktu kepulangan kami di dini hari, tentunya lampu motor menjadi sangat penting keberadaannya. Ditemani Ardian dan beberapa warga dekat penginapan, kami menuju Pantai Ujung Genteng. Ada bengkel di sana. Cupsy malah tidur karena kelelahan. Setengah jam menunggu akhirnya beres. Kembali ke penginapan pukul 22.30, aku sulit untuk memejamkan mata.

Esok hari kami harus berangkat pukul 02.00 dari Pangumbahan agar bisa tiba di Bandung pukul 12.00 maksimal. Aku baru bisa memejamkan mata pukul 00.30. Menikmati tidur satu jam, sudah kudengar alarm berbunyi, tanda kepulangan kami semua.

10 Besar The Touringers 2012. Yeah kita nantikan touring2 selanjutnya :3